SEMARANG, MediaKompaz.id: Massa yang didominasi mahasiswa menggelar aksi demonstrasi di Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Kamis (22/10/2026). Aksi tersebut menyebabkan ruas jalan ditutup total sejak pukul 16.00 WIB. Hingga sekitar pukul 18.00 WIB, demonstrasi masih berlangsung.
Dalam aksi tersebut, massa membawa sejumlah poster berisi pesan kritik dan kepedulian terhadap lingkungan, di antaranya bertuliskan “All Eyes on Karhutla”, “Save Kalimantan”, hingga “Alam Bukan Milik Segelintir Orang”.
Massa menyampaikan lima tuntutan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Tuntutan tersebut mencakup stabilisasi harga dan kemudahan akses kebutuhan pokok serta bahan bakar minyak (BBM), pengembalian TNI dan Polri pada fungsi utamanya, serta evaluasi total terhadap proyek strategis nasional (PSN).
Selain itu, massa mendesak pengembalian hak atas tanah kepada rakyat, pemulihan wilayah terdampak bencana, serta penghentian praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di lingkungan pemerintahan.
Perwakilan massa aksi, Ramanda Bima Prayuda dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Semarang, menyoroti penanganan bencana di sejumlah wilayah, termasuk kondisi pemulihan pascabencana di Sumatera.
Menurut Ramanda, pemerintah perlu memberikan perhatian serius terhadap pemulihan wilayah terdampak bencana, termasuk masyarakat yang kehilangan mata pencaharian akibat bencana maupun persoalan lingkungan.
Ia juga menyoroti persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan gambut. Ramanda mendorong pemerintah dan kementerian terkait untuk segera mengambil langkah konkret guna menyelesaikan persoalan tersebut.
“Kami di sini bicara untuk mendorong orang-orang yang ada di kementerian ataupun pemerintahan supaya bagaimana karhutla ini dihentikan,” katanya.
Ia menegaskan, pemulihan tidak boleh hanya berfokus pada kondisi lingkungan, tetapi juga harus mencakup kehidupan masyarakat yang terdampak.
“Kami minta untuk segera dituntaskan dan rakyat-rakyat di sana, apalagi ada hal-hal yang pekerjaan atau profesinya terdampak, itu tolong untuk dipulihkan,” ujarnya.
Diikuti Mahasiswa dari Berbagai Perguruan Tinggi
Aksi demonstrasi tersebut melibatkan berbagai elemen masyarakat, terutama mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Semarang.
Peserta aksi antara lain berasal dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Semarang (USM), Politeknik Negeri Semarang (Polines), Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), dan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo.
Ramanda mengatakan, gerakan mahasiswa di Semarang tersebut merupakan bagian dari rangkaian aksi yang sebelumnya berlangsung di Jakarta pada 20 Oktober 2026.
Ia menyebut massa berencana kembali menyuarakan aspirasi pada momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober mendatang.
Melalui aksi tersebut, mahasiswa berharap pemerintah merespons berbagai persoalan yang disuarakan, mulai dari kebutuhan pokok, kebijakan pembangunan, persoalan agraria, hingga penanganan bencana dan kerusakan lingkungan.
Massa juga mendesak agar tuntutan yang disampaikan tidak berhenti sebagai aspirasi di jalanan, melainkan ditindaklanjuti melalui kebijakan dan langkah nyata yang berpihak kepada masyarakat.





